Dari kecil kita semua punya cita cita, tentang akan maunya jadi apa kita di masa depan. Masa depan itu apa?, yang selalu di camkan tentang masa depan ketika gw kecil adalah hari esok yang kita gak tau akan terjadi apa, yang pasti masa depan itu adalah suatu hal yang misterius. Ketika kita masih kecil atau dimasa TK atau SD gw berpikir semua orang punya dan dapat kesempatan yang sama, tentang gw dan temen temen se-lingkungan gw yang gw pikir kita memiliki pola pikir dan masa depan yang terjamin dan sama, tanpa mikirin keadaan. Semua mulai berubah ketika beranjak remaja di masa masa SMP dimana gw melihat ruang lingkup yang lebih luas, tentang orang orang di lingkungan gw yang berbeda agama bukan cuma Kristen, tapi mulai ketemu sama yang protestan dan katolik bahkan hindu. Dan melihat bahwa lingkungan masa kecil kita semua itu berbeda beda, gw pikir semua orang di lingkungan gw itu sama mas kecilnya seperti diasuh kedua orang tua, main bareng sepupu, dan bahkan main sama abang atau kakak. Akhirnya gw paham akan keadaan dimana ada yang dia nggak punya Ibu/Bapak, nggak punya kakak karena anak tunggal, bahkan sampe ada yang gak TK dan langsung SD. Meaning dari ini semua yang gw pahami pada saat itu ialah, "keadaan" semua orang gak selalu sama. Dan kita nggak bisa mengklaim kita memiliki perasaan dan pola pikir yang sama apalagi ketika kita bahas masalah lingukngan dan suku bangsa.
Dimasa remaja gw satu persatu mulai memahami kondisi semua orang yang berbeda beda, dan gw harus jaga sikap dan omongan tentang itu. Lain cerita kalo keadaan salah satu orang di lingkungan gw itu punya takdir yang baik atau beruntung. Misalnya ada salah satu temen gw yang dia uang jajan untuk sekolahnya aja 50 ribu sehari. Gw rasa dia nggak akan merasakan ketersinggungan sih tentang lingkungan disekitar dia mau ngomong apa. Tapi tetep aja semua orang punya kekurangan buktinya gw pernah bikin maslah sama dia bahkan sampe kita marah marahan berdua, semua akhirnya kembali lagi kaya semula ketika kita berdua saling minta maaf. Biasalah, masalahnya tapi bukan tentang keadaan dia yang bikin dia marah, ini malah tentang pola pergaulan yang bikin di marah, dia bilang dia kurang suka sama sikap gw tentang masalah dia yang playboy dan gw bawa ke obrolan temen temen sekolah sehari hari dan dia tersinggung. Yaudah lah namanya juga masa pertumbuhan bukan cuma fisik tapi mental dan pemikiran juga berkembang dimasa itu.
Pada masa SMA/SMK domain nya lebih besar lagi, gw harus bisa menerima banyak orang dari berbagai latar belakang, tapi ini bukan tentang menerima, ini tentang bagaimana caranya nge-blend atau nyampur dengan mereka yang berlatar belakang beragam dan berasal dari keluarga yang berbeda beda pula. Salah satu orang dilingkungan SMK gw bahkan sampe bikin gw mikir luar biasa hoki banget yaitu ada salah satu temen ekskul di sekolah dan dia ternyata ayahnya vokalis band terkenal dan gw pun sering dengerin lagunya. Tapi disayangkan dikelas 11 dia pindah sih, yaudah deh mau gimana itukan pilihan dia, tapi gw senang kok setidaknya bisa kenal dan pernah satu sekolah sama beliau.
Banyak yang bilang masa SMA adalah mas yang paling indah, tapi menurut gw enggak. Kalo kita bahas era 90-an atau 2000-an ya masih bisa dibilang begitu. Di era sekarang gw rasa banyak yang harus dipersiapkan di masa SMA untuk masa kedepannya, bukan cuma tentang kuliah atau dapat universitas bagus. Tapi juga lingkungan dimasa itu juga menentukan kemana masa depan kita akan berangkat. Ya banyak orang orang yang memang udah mikirin sedari awal sih mereka mau kemana, tapi banyak juga yang flow aja ikutin aja mengalir aja mau kemana. Di SMK karena gw secara takdir dan nggak sengaja jadi ketua Osis, ya pada akhirnya gw bisa ketemu orang yang di lingkungan yang lebih luas lagi. Dari masuk ke gedung DPR sampe ketemu Bpk Jokowi pun udah gw lewatin, dan itu terjadi begitu aja sih.
Mulai berasa kata kata seperti judul diatas itu ketika udah lulus sekolah, mulai kerja satu tahun pertama ya capek sih iya namanya juga kerja. Lebih down lagi ketika diwaktu kerja kepikiran "apa ini yang gw mau?", sembari mikirin cita cita yang dulu mau jadi apa, eh tenyata nggak kesampean karena satu dan berbagai hal. Pada akhirnya cuma bisa mikir yaudah lah mau diapain lagi. Semua berasa kaya hambar aja tau, apalagi dimasa itu ngeliat kabar temen temen lain entah temen SD,SMP/SMK pada mendapatkan keberhasilan kaya jadi Polisi jadi Marinir atau bahkan keluar negeri. Itu serangan mental banget gila, dimasa ini gw sadar ketika kita selesai sekolah wajiib 12 tahun ya kita udah dikategorikan sebagai masyarakat, dan yang menentukan kita berhasil atau bisa kemana mana atau jadi apa ternyata kembali lagi ke keluarga kita, mereka bisa bawa kita kemana. Kalo yang berasal dari keluarga mapan ya mereka cukup mantap untuk menentukan masa depan, karena nggak banyak yang harus dipertimbangkan apalagi biaya dan segala macam, karena ya keluarganya mapan semua udah dipersiapkan dengan matang sama mereka. Eh kalau yang berasal dari keluarga sederhana yaudahlah yang penting udah sekolah sampe SMA/SMK dan si anak bisa kerja apa aja yang penting halal dan bisa bantu orang tua, itu udah cukup bagi mereka. Dikondisi inilah gw bisa bilang "buang cita cita".
/
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar